***
Bahkan di siang hari kini aku merasa takut. Takut jikalau malam datang nanti, bulanku –kau– tak akan datang.
12 Desember 2011
Surat kedua untukmu ini, ku lampirkan dengan titik-titik kecil yang bergumul di pelupuk mataku :)
Hai?
Bolehkah aku sedikit meracau untuk kedua kalinya? Ku harap kau menginjinkannya, Jika memang nanti di tengah surat kau tak sanggup membaca lanjutan suratku, silakan kau lipat dan terbangkanlah bersama angin. Setuju?
Kali ini mungkin aku akan bertanya beberapa hal kepadamu. Pertanyaan yang mungkin bisa kau jawab dengan sederhananya, namun ini begitu rumit bagiku.
Mengapa di tengah perjalanan kita yang bisa dibilang sangat singkat, kau mengambil kembali candu yang pernah kau berikan padaku?
Tidakkah kau lihat bahwa saat kau memaksa mengambilnya kembali, rembesan hangat seketika itu muncul di pelupukku?
Aku tahu dan cukup sadar bahwa kita bukan apa-apa. Dan aku tak pantas menuntutmu untuk mempertahankan candu yang pernah kau berikan.
Tapi apa salah jika aku memintamu masih tetap berada di sampingku dan membagi sedikit candu itu lagi agar aku tak bosan jika melewati perputaran waktu yang tak jua berhenti?
Yah, mungkin permintaan itu terlalu berat untukmu. Terlalu berat untuk dikabulkan, hanya untuk seorang gadis yang hanya bisa membuat kesalahan. Namun harus kau tahu, ini aku apa adanya. Dengan segala kejujuran yang coba ku tunjukkan padamu.
Hei, tapi aku akan berjanji padamu. Jika nanti kau menginginkanku pergi dari hidupmu, silakan katakan saja. Akan ku coba lakukan. Jangan memikirkan perasaanku, aku hanya buangan yang kau pungut dan sudah sangat siap untuk akhirnya akan kembali ke tanah. Dan pada akhirnya akan terurai oleh bakteri. Takdirku sudah diketahui, jadi jangan merasa iba padaku :)
Maaf jika aku memiliki rasa yang begitu rumit terhadapmu, dan aku tak bisa membuang begitu saja rasa itu. Aku egois? Memang! Keegoisan itulah yang membuatku masih bertahan di sini. Kau tak suka dengan itu? Sudah ku duga.
Kau boleh menganggapku bodoh, karena memang begitu adanya. Bahkan kini aku tak sanggup mengendalikan diriku saat bersamamu. Rasa itu datang seperti hantu, menyelinap melewati pori-pori kulitku, lalu dengan santainya menyabetkan luka pada setiap inci tubuhku, membuatku ringkih hingga tak sanggup untuk berdiri. Dan aku pun mati rasa pada yang lain.
Aku harap ini cepat berakhir.
Kini ku rasa candumu adalah obat satu-satunya. Bisakah kau berikan padaku sedikit saja candu itu lagi? Dan kau boleh memberikan sisanya untuk gadis lain. Tentunya gadis yang lebih segala-galanya dari ku. Gadis yang keberadaannya sering ku tangkap dari setiap gurat tulisanmu.
Sekian surat dariku. Aku tak berharap akan sebuah balasan. Hanya kepastian darimulah yang ku tunggu :)
***
Yours Sincerely,
Veata
Veata




0 komentar:
Posting Komentar